Senin, 13 April 2015

My Dream

"Bawa Aku Terbang"

“Mak, Llilis pengen naik Pesawat.” Bisiku Pada Ibu sore Itu.

“Insyaallah, Ntar kamu pasti bisa naik pesawat Lis”

“Mak, Lilis Pengen banget bisa ajak emak keliling dunia pake pesawat, nanti kita jalan-jalan, terus foto-foto, Belanja oleh-oleh, pokoknya lilis pengen kaya orang-orang gitu lah mak, bisa liburan ke luar negri”. Ceritaku dengan penuh kepolosan.

“Aamiin, Semoga apa yang lilis impikan di kabul semua sama Allah, Itu tempenya di balik lis nanti Gosong”. Nada lembut  itu selalu terlontar penuh kehangatan.

“Oh, Iya lilis sampe lupa kalau kita lagi masak ya Mak”.  Wajah sumringah selalu aku pancarkan setiap kali berbincang dengan ibu terkasih.



Rumah mungil yang bertembokan bilik selalu menghadirkan suasana keluarga yang begitu hangat, Sepulang kerja sebagai sales kue, Aku tak pernah absen untuk membantu emak menyiapkan makan malam. Keluarga kami tidaklah semapan dan selengkap sanak-sodara ku,  namun di rumah ini kami merasakan Surga, Kesederhanaan yang selalu mengajarkan kami untuk bersyukur.

***

“Tempe lagi...Tempe Lagi Bosen” Keluh adik lelaki ku Rahim yang masih berusia lima tahun.

“Rahim Ga boleh ngomong begitu, Kita gak boleh menghina makanan, seharusnya rahim bisa bersyukur karena Allah masih memberi kita Rizky.” Suara lembut itu lagi.

“Tuh, Denger Kata Emak.” Ucapku yang sedikit ketus.

“Hustt...Lilis Jangan Judes gitu Ah, emak Ga suka, adikmu ini masih kecil belum begitu mengerti”. Lagi-lagi kelembutan hati ibu menyejukan hati.

“Mak, Kok Bapak Ga Pulang-pulang sih? Kan Rahim Kangen Mak, Bapak sudah Janji mau ajak rahim jalan-jalan”. Mulutnya yang penuh dengan makanan membuat suaranya tak terdengar jelas.

“Rahim, Kalau kamu lagi makan jangan bicara nanti tersedak”. Sahut ku makin judes.

“Lilis, udah ah.”Sang Suara lembut itu sedikit mengeras.

Ntah kenapa, aku sangat emosi jika harus mencari tahu dimana keberadaan bapak ku sekarang, Ada rasa dimana aku tak ingin lagi melihat sosok pria yang telah menelantarkan keluarganya demi wanita yang datang merusak kehidupan keluarga ku. Sudah tiga tahun kami berjuang keras menyambung hidup tanpa sosok bapak yang seharusnya menjadi pelindung keluarga. Namun ntahlah mungkin ini kisah terbaik yang telah di rancang oleh Allah. Tak tega rasanya jika harus melihat wajah emak yang sedih jika mengingat kembali bayangan pria yang telah menghianatinya.

***

Matahari mulai terbit, Aroma embun kian tercium segar, Suasana pedesaan yang asri selalu membuat pikiran ini nyaman.

“Lis...Kamu Ga Kerja?”

“Lilis libur mak”.

“Libur sih Libur lis, tapi gak pake melamun depan pintu”.

“Iya Mak”. Langsung ku geserkan tubuh mungilku dan duduk pada bale yang mulai rapuh.

“Memangnya apa yang kamu lamunkan lis?”

“Lilis Gak melamun kok mak, lilis Cuma lagi berhayal, Kapan Allah mengangkat drajat keluarga kita? Kapan kita bisa tinggal di tempat yang lebih layak? Lilis pengen banget beli rumah buat emak sama Rahim, Apa lagi kalau hujan turun rumah kita pada bocor semua”. Nada keluh melengkapi lamunanku.

“Sabar Lis, Insyaallah, Semua mimpi kamu akan menjadi Nyata, Yakinlah sama Allah yang maha Kaya”.

“Tapi Kapan Mak? Lilis pengen buktiin sama bapak, kalau dia akan menyesal sudah meninggalkan kita mak”.

“Husstt...Jangan Gitu Ah, Biar gimanapun dia itu bapak mu lis, wajib kamu hormati”.

“Untuk apa lilis menghormati Pria yang sudah tidak peduli sama kita!”.

“Istigfar Lis.”

“Mak, Lilis boleh gak berhenti bekerja jadi sales kue? Mumpung masih muda, Lilis mau ke kalimantan Aja mak, Lilis Mau cari pekerjaan  yang bayarannya lebih besar, Lilis pengen bahagiain emak sama Rahim.”.

“Kalimantan?” Wajah penuh kehawatiran terpancar jelas.

“Iya mak, Kemarin lilis di tawarin sama Pak Hari kepala desa di Kampung Dukuh, Kalau Anaknya Akang  Asep mau berangkat ke kalimantan dan kebetulan lagi ada lowongan kerja buat perempuan.”

“Kamu yakin Lis mau kerja ke kalimantan? Mau kerja apa kamu di sana?”

“Apa Aja mak, yang penting halal.”

“Hemmm, Lis..Lis..” Emak pergi meninggalkan ku begitu saja tanpa seucap kata apapun dari mulutnya.

***

Tak terbayangkan jika aku harus mengahabiskan masa remaja ku di tanah rantau, Tiga tahun sudah aku ikut kerja bersama Kang Asep di kalimantan sebagai buruh di salah satu perusahaan batu bara, bayaran di sini sangatlah cukup untuk biaya hidup Rahim dan Ibu. Berat memang jika harus meninggalkan mereka berdua di kampung halaman namun apalah daya, kehidupan yang memaksaku untuk terus berpacu demi kelangsungan hidup.

Detik terus berlari, Keprihatinan hidup setia menemani. Bayangan wajah seorang ibu selalu menjadi penguat tugasku. Demi mewujudkan mimpi, aku tak sadar jika usia ku sudah menginjak seperempat abad.

“Lis...Gimana Udah siap-siap belom?”

“Udah Kang Asep”.

“Ayo Atuh Lis, kita harus cepat-cepat ke bandara, nanti kalau ketinggalan pesawat bahaya, bisa naik becak kamu ke kampung hehe”. Gayanya yang sangat ramah jelas tergambar.

“Wah...Si Akang bisa Aja nih”.

Selain berjiwa humoris Kang Asep orang yang sangat ramah dan tulus, dia banyak membantu pekerjaanku di sini. Tanpa berpikir panjang Aku segera bergegas merapihkan diri, tak akan ku sia-siakan kesempatan untuk cuti bekerja, tak sabar rasanya tubuh ini untuk dapat memeluk sosok seorang ibu.

***

Bahagia rasanya ketika kaki ini kembali berpijak pada kampung halaman tercinta, melihat suasana pedesaan yang masih sangat asri seakan membuat tubuh ini tertahan dan tak ingin berjauhan dengan keluarga kecil ku. Berjuta ceritapun langsung aku rincikan pada emak yang selalu membuat hati ini merindu. Keajaiban Allah selalu mengiringi langkah kehidupan keluarga ku.

Tubuh ini bergetar begitu hebat, Mata ini tak henti-hentinya meneteskan kebahagiaan, terlebih perempuan di sebelahku membuat tubuh ini kian gemetar.  Ya Allah, Ini kah Janjimu? Aku masih tak percaya akan semua ini, Awan-awan putih menjadi pemandangan utama, genggaman erat nan hangat setia menyelimuti jemariku.

Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik.
Innalhamda Wan Ni’mata, Laka Wal Mulk, Laa Syarikalak.

Aku memenuhi panggilan Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan Mu. Aku memenuhi panggilan Mu tiada sekutu bagi Mu, aku memenuhi panggilan Mu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milik Mu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagi Mu.


“Emak....Inikah Rasanya naik pesawat dengan orang yang sangat lilis sayang” nada tangisku bergema.

“Allah telah mendengarkan semua do’a tulusmu Lis”. Pelukan Erat penuh rasa Rindu dan bangga sangat terasa pada tubuhku.

“Iya Mak...Allah Maha adil ya Mak? Allah sangat sayang pada keluarga kita”.

“Iya Lis, semua ini buah dari kesabaran mu.” Isak tangis emak pun kian tak tertahan”

Tanah Suci menjadi pelabuhan antara Aku dan Emak.

Tak Ada yang Tak Mungkin Bagi Allah, Hidup adalah perjuangan. Apapun hasilnya kelak lakukanlah segala sesuatu penuh dengan kesungguhan dan keyakinan, Do’a orang tua adalah salah satu Kuci Kesuksesanmu.

Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar