TIM TIGA
(Allah, Aku dan Kamu)
10 Oktober 2014 - Setiap kali merindu mata ini pasti akan berkaca, tak ada kemilauan intan dan permata pada bait pertama rumah tangga, semua mengalir seiring ridhonya. Kesederhanaan menjadi cermin pada janji suci kala itu.
Keajaiban Allah menjadi peran utama pada kisah hidup ku. Melihatmu langkahkan kaki, semakin jauh dan menghilang dari pandanganku membuat raga ini merapuh. Masih tak percaya jika aku akan mampu melampaui kisah ini seorang diri, namun ketika tubuh ini berbalik melepaskan pandangan di situlah aku meneukan penguat rindu.
"Allah selalu bersamaku, Allah selalu menjadi alasan utamaku dan Allah selalu menjadi penguat tekadku. "
Jarak ribuan kilometer menjadi penguat cinta di antara kita. Tidak semua hal yang kuinginkan harus jadi kenyataan, penantian, pengorbanan, juga suatu kebaikan dan pelajaran dalam hidup. Aku belajar melepaskan atas apa yang aku miliki saat ini, lalu menangis!.
Aku hanya manusia biasa, lemah dan mungkin terluka. Tapi tak mengapa, waktu akan membawaku terbiasa.
Ini sudah menjadi keputusan Allah, Aku tidak boleh mengeluh!
hidup siapa yang sempurna? bagiku, mendekati sempurna jika bisa menemukan makna. Ketika nama aku dan kamu tertulis rapih pada bab kehidupan di situ aku meminta untuk mengawali dan mengakhiri dengan sebuah ketaatan. Karena percuma bila berdua namun ketaatan jauh dari kehidupan.
Aku dan Kamu pasti akan mati, namun Allah adalah sang Maha Kehidupan. cintailah Allah, cintalah yang dicintai Allah, Agar kita tau makna keindahan hidup.
Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah
.jpg)
woow keren.
BalasHapusharus sabar...sabar itu ternyata sulit di capai, maka berpuasalah karena puasa itu setengahnya sabar.