"Kayuhan Sepeda"
Malam menawarkan kesunyiannya, namun tubuh ini masih saja terpaku memandang langit dengan taburan bintang.
"Kapan kamu menemui orang tua ku mas, kenapa hati ini mendadak tak yakin akan ketulusan hatimu, Sesibuk itu kah kamu sampai lupa akan aku di sini?" Hati ini terus berkata. " Lamunku dalam waktu.
****
Rasa cintaku pada mas Iran memang sering membuat lupa diri, aku sangat mengagumi sosok iran. Dia pria yang sangat rajin serta pekerja keras, kehidupan kami memang sangat berbeda. Dia selalu berjuang keras demi sebuah keinginan. Sedangkan aku, cukup dengan mengutarakan keinginanku pada ayah - ibu dengan mudah semua itu terwujud. Sepeda tua yang selalu Iran kayuh setiap pagi tak pernah absen melintasi depan rumah. Senyuman tulusnya membuat candu otak ini. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, aku mencintainya, menyayanginya. Kedua bola mata ini ingin terus memandang tubuhnya yang kekar serta senyuman yang lembut.
Tepat jam 06.00 pagi.
Terlihat dari sudut jalan rumahku sepeda itu mulai di kayuh pria yang sangat mudah mencuri perhatian.
"Mas Iran Stop-stop-stop". Seketika sepeda itu berhenti"
"Assalamualaikum wulan". Sapanya
"Waalaikumsalam mas Iran, Mau berangkat kerja ya mas?" Tuturku penuh dengan rasa bahagia.
"Iya Lan, mau ikut?" candaan renyah itu membuat aku kegirangan.
"Mau bangeeett mas, bonceng ya hehe, Oh iya mas Iran, wulan udah buatin sarapan buat mas iran, enak loh, itu bikinan wulnan sendiri tanpa bantuan siapapun."
"Wah, pasi lezat makasih ya wulan, mas berangkat dulu ya".
"Oke mas, Hati-hati ya".
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam mas Iran". ia memang satu-satunya pria yang selalu membuat pagiku sangat berbunga,
Tak ingin sakalipun aku tidak memberikan moment yang spesial untuknya, majalah kue serta masakan selalu memenuhi rak buku di kamar. Mas iran bagaikan suplemen yang selalu aku telan setiap hari. bahkan tak terasa perkenalanku bersama mas iran sudah 2 tahun lamanya, dia memang pria pendatang yang sudah berusia 28 tahun di komplek dimana akau tinggal. sedangkan aku perempuan yang masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Namun itulah cinta tak pandang usia.
Rutinitasku setiap pagi hanyalah menanti sang Arjuna hati melintasi rumahku. sampai-sampai aku hapal akan semua jadwal kegiatan mas iran. Terkadang kelakuan ini membuat heran orang tua serta kedua adik perempuanku yang masih duduk di bangku SMP.
****
Putaran waktu terus berpacu perkenalanku dengn mas iran semakin lama, mungkin ini sudah saatnya aku mengutarakan keinginanku yang sudah lama terpendam.
Tepat jam 06.00 pagi.
Sosok spria dengan speda yang iya kayuh sudah bukan menjadi pemandangan asing lagi. Aku langsung berlari ke dalam dapur untuk mengambil bekal yang sudah terbungkus rapih.
Assalamualaikum wulan". Sapanya
"Waalaikumsalam mas Iran, Mau berangkat kerja ke pabrik ya mas? Matanya langsung melirik pada tepak nasi yang aku bawa.
"Apa lagi ini lan?"
"Mas iran wajib mencoba menu baru yang aku buat pagi ini, pasti enak."
"Makasih ya wulan, kamu selalu baik sama mas, sifatmu pun tak pernah berubah".
"Mas, Aku Ingin menjadi istrimu".
"Sabar ya Lan, Balasnya penuh senyum
"Mas? Or-or-orang tuaku mas, ayah ibu selalu menanyakan hubungan kita" Rasa gugup selalu merajai batinku.
"Sabar ya Lan".
"Ada gak sih mas jawaban selain kata sabar? Aku ingin sebuah kepastian di sini".
"Jika waktunya sudah tiba kamu pasti akan jadi istriku"
"Tapi kapan mas? ya minimal aku sudah di kenalkan sama ibu-bapak mu, lah ini di ajak ke rumah mu saja aku belum pernah". nadaku sedikit emosi.
"Sabar ya Lan, kamu harus sabar, belajarlah sabar karena tidak semua hal yang kamu inginkan harus kamu dapatkan hari ini juga. mas berangkat dulu ya, nanti telat".
"Iya mas, wulan akan sabar, Hati-hati ya, wulan sayang banget sama mas Iran". Nadaku sedikit melemah.
Lagi-lagi dia hanya mengelus kepalaku, sambil pergi mengayuh sepeda tuanya dengan meninggalkan seutas senyum.
Terkadang aku merasa heran akan sifatnya yang terus saja dingin, dan aku selalu berfikir kenapa roda kehidupannya belum berpihak padanya, dia memang pria yang sangat pekerja keras, sudah empat tahun lebih dia bekerja di pabrik tekstil dengan sepeda ontelnya. sedangkan aku kini sudah memiliki butik serta restoran jepang yang aku kelola semenjak lulus kuliah.
****
Benakku penuh dengan rasa khawatir dan heran, sudah sepekan ini mas iran tidak pernah melintas depan rumah, handphonenya pun selalu sibuk.
"Mas Iran, kamu kemana sih mas? Aku hanya ingin menjadi istrimu mas". Tangisku seorang diri dalam kamar.
Kerinduanku akan pria pekerja keras ini membuat aku nekad untuk menemui ibu bapaknya, namun sayang untuk saat ini rumah itu sudah tak berpenghuni.
"Oh..Tuhan, kenapa aku harus tidak tau akan hal ini? Kamu dimana mas?dimana? aku rindu". tanyaku pada hati.
"Begitu bodohnya aku...!! Mas Iraaaaannn". Teriaku dalam kamar.
****
Peristiwa itu menghancurkan batiku, harapan unuk hidup seakan menipis, aku melupakan bisnis butik dan restoran yang aku jalankan, aku lupa jika masih ada ayah-ibu serta kedua adik ku yang begitu perduli akan masa depanku.
Pikiran ini kosong, badan ini semakin kurus, disini aku sangat lupa akan penampilan serta kesehatan.
"Mas Iran, Kamu dimana mas? Aku Rindu". Hanya kata-kata itu yang keluar dari lisanku.
"Wulan, Kamu kenapa jadi seperti ini lan? Ibu rindu dengan tawamu serta semangat juangmu sayang" Pelukan seorang ibu seakan terasa percuma.
"Yah, Gimana ini? gimana nasib anak kita yah?" tangisan seorang ibu tinggalah tangisan.
"Sabar bu, ayah pasti akan cari jalan keluar atas semua ujian hidup ini".
****
Ntah angin segar dari mana, aku mendengar kabar jika mas iran akan kembali.
seketika tubuhku berfungsi total, aku bergegas merapihkan diri, aku ingin menyambut kedatangan mas iran dengan wajah cantik dan harum. Aku sudah rindu ingin menyajikan kue dan makanan yang lezat untuknya.
Hati ini selalu yakin jika mas iran pasti akan kembali menemuiku dan akan mengatakan "Wulan Maukan engkau menjadi Istriku".
Kabar hanyalah kabar, bisa nyata bisa hanya bualan belaka, sudah berhari-hari aku duduk di teras rumah dengan bekal yang sudah aku siapkan, Besar harapan dapat melihat kembali sosok pria yang selalu berkeliaran di pikiranku.
"Kamu dimana mas iran?". Bisiku dalam lamunan.
Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah #DNR


Tidak ada komentar:
Posting Komentar