Rabu, 29 April 2015

Sakura

"Sepasang Sayap Putih"


Waktu terus berbisik akan masa-masa terbahagia dalam hidup, penantian hari terbahagia terus berlari mendekat, lembaran foto kenangan menjadi penghias dinding hati yang lembut.
Disini aku dapat merasakan jiwa mu yang terus melawan syarat kehidupan dunia, mental baja sangatlah menjadi prioritas utama untuk mu saat ini. Kerasnya dunia menjadikan engkau seorang mutiara yang lahir di tengah-tengah kegersangan hidup.


Semahal itu kah bahagia?

Sekeras itukan kesuksesan?

Serumit ini kah teka-teki kehidupan?

Begitu sulitnya membendung air mata yang ingin menetes, Lisan ini tak ingin berucap kata perpisahan pada belahan jiwa, betapa cerdasnya pribadimu memanipulasi rasa pedihnya kehidupan. Tidak sampai di situ!

Perbedaan budaya asing membuat engkau harus kembali berurusan dengan sifat  Sabar!
Ingat! Rencana-NYA sangatlah indah dan benar.

Menghapus kesedihan tidaklah semudah memetik setangkai bunga.
Menggapai mimpi tidak semudah meneguk segelas air.
Bertahun-tahun hati ini harus menahan rasa rindu yang kian menjadi, namun inilah kita. Bukankah tidak mudah untuk mencapai kebahagiaan yang berkualitas.

Saat ini bisa saja UANG MENJADI RAJA, tapi ingat! Akan kita putar roda kehidupan, dimana semua itu akan berbalik.

Guguran bunga sakura menandakan hari silih berganti, hamparan lautan salju menunjukan  waktu untuk berjumpa kian mendekat, harapan untuk terus  bersama mulai tergambar.  Dapat menemani langkah hidupnya merupakan mimpi terdekatku saat ini. Berharap keajaiban Allah akan datang menghampiri.

Ya Allah.....Terangi dan sinarilah hidup kami sampai bertemu waktu dimana kami harus berpulang menghadapmu.

Wahai pelita hati kami, izinkanlah jiwa ini berpulang kala berada dalam sujudmu, dimana tanah suci menjadi pelabuhan kesabaran serta keikhlasan hati kami.

#SakuraDalamPelukan Restu Allah dalam genggaman.


Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah

Coretan.

"Kayuhan Sepeda"

Malam menawarkan kesunyiannya, namun tubuh ini masih saja terpaku memandang langit dengan taburan bintang.

"Kapan kamu menemui orang tua ku mas, kenapa hati ini mendadak tak yakin akan ketulusan hatimu, Sesibuk itu kah kamu sampai lupa akan aku di sini?" Hati ini terus berkata. " Lamunku dalam waktu.

****
Rasa cintaku pada mas Iran memang sering membuat lupa diri, aku sangat mengagumi sosok iran. Dia pria yang sangat rajin serta pekerja keras, kehidupan kami memang sangat berbeda. Dia selalu  berjuang keras demi sebuah keinginan. Sedangkan aku, cukup dengan mengutarakan keinginanku pada ayah - ibu dengan mudah semua itu  terwujud. Sepeda tua yang selalu Iran kayuh setiap pagi tak pernah absen melintasi depan rumah.  Senyuman tulusnya membuat candu otak ini. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, aku mencintainya, menyayanginya. Kedua bola mata ini ingin terus memandang tubuhnya yang kekar serta senyuman yang lembut.


Tepat jam 06.00 pagi.
Terlihat dari sudut jalan rumahku sepeda itu mulai di kayuh pria yang sangat mudah mencuri perhatian.

"Mas Iran Stop-stop-stop". Seketika sepeda itu berhenti"

"Assalamualaikum wulan". Sapanya

"Waalaikumsalam mas Iran, Mau berangkat kerja  ya mas?" Tuturku penuh dengan rasa bahagia.

"Iya Lan, mau ikut?" candaan renyah itu membuat aku kegirangan.

"Mau bangeeett mas, bonceng ya hehe, Oh iya mas Iran, wulan udah buatin sarapan buat mas iran, enak loh, itu bikinan wulnan sendiri tanpa bantuan siapapun." 

"Wah, pasi lezat makasih ya wulan, mas berangkat dulu ya".

"Oke mas, Hati-hati ya".

"Assalamualaikum". 

"Waalaikumsalam mas Iran". ia memang satu-satunya pria yang selalu membuat pagiku sangat berbunga,

Tak ingin sakalipun aku tidak memberikan moment yang spesial untuknya, majalah kue serta masakan selalu memenuhi rak buku di kamar. Mas iran bagaikan suplemen yang selalu aku telan setiap hari. bahkan tak terasa perkenalanku bersama mas iran sudah 2 tahun lamanya, dia memang pria pendatang yang sudah berusia 28 tahun di komplek dimana akau tinggal. sedangkan aku perempuan yang masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Namun itulah cinta tak pandang usia.
Rutinitasku setiap pagi hanyalah menanti sang Arjuna hati melintasi rumahku. sampai-sampai aku hapal akan semua jadwal kegiatan mas iran. Terkadang kelakuan ini membuat heran orang tua serta kedua adik perempuanku yang masih duduk di bangku SMP. 

**** 
Putaran waktu terus berpacu perkenalanku dengn mas iran semakin lama, mungkin ini sudah saatnya aku mengutarakan keinginanku yang sudah lama terpendam.

Tepat jam 06.00 pagi.
Sosok spria dengan speda yang iya kayuh sudah bukan menjadi pemandangan asing lagi. Aku langsung berlari ke dalam dapur untuk mengambil bekal yang sudah terbungkus rapih.

Assalamualaikum wulan". Sapanya

"Waalaikumsalam mas Iran, Mau berangkat kerja ke pabrik ya mas? Matanya langsung melirik pada tepak nasi yang aku bawa.

"Apa lagi ini lan?"

"Mas iran wajib mencoba menu baru yang aku buat pagi ini, pasti enak."

"Makasih ya wulan, kamu selalu baik sama mas, sifatmu pun  tak pernah berubah".

"Mas, Aku Ingin menjadi istrimu".

"Sabar ya Lan, Balasnya penuh senyum

"Mas? Or-or-orang tuaku mas, ayah ibu selalu menanyakan hubungan kita" Rasa gugup selalu merajai batinku.

"Sabar ya Lan".

"Ada gak sih mas jawaban selain kata sabar? Aku ingin sebuah kepastian di sini".

"Jika waktunya sudah tiba kamu pasti akan jadi istriku"

"Tapi kapan mas? ya minimal aku sudah di kenalkan sama ibu-bapak mu, lah ini di ajak ke rumah mu saja aku belum pernah". nadaku sedikit emosi.

"Sabar ya Lan, kamu harus sabar, belajarlah sabar karena tidak semua hal yang kamu inginkan harus kamu dapatkan hari ini juga. mas berangkat dulu ya, nanti telat".

"Iya mas, wulan akan sabar, Hati-hati ya, wulan sayang banget sama mas Iran". Nadaku sedikit melemah.

Lagi-lagi dia hanya mengelus kepalaku, sambil pergi mengayuh sepeda tuanya dengan meninggalkan seutas senyum.

Terkadang aku merasa heran akan sifatnya yang terus saja dingin, dan aku selalu berfikir kenapa roda kehidupannya belum berpihak padanya, dia memang pria yang sangat pekerja keras, sudah empat tahun lebih dia bekerja di pabrik tekstil dengan sepeda ontelnya. sedangkan aku kini sudah memiliki butik serta restoran jepang yang aku kelola semenjak lulus kuliah.

****
Benakku penuh dengan rasa khawatir dan heran, sudah sepekan ini mas iran tidak pernah melintas depan rumah, handphonenya pun selalu sibuk.

"Mas Iran, kamu kemana sih mas? Aku hanya ingin menjadi istrimu mas". Tangisku seorang diri dalam kamar.

Kerinduanku akan pria pekerja keras ini membuat aku nekad untuk menemui ibu bapaknya, namun sayang untuk saat ini rumah itu sudah tak berpenghuni.

"Oh..Tuhan, kenapa aku harus tidak tau akan hal ini? Kamu dimana mas?dimana? aku rindu". tanyaku pada hati.

"Begitu bodohnya aku...!! Mas Iraaaaannn". Teriaku dalam kamar.

****
Peristiwa itu menghancurkan batiku, harapan unuk hidup seakan menipis, aku melupakan bisnis butik dan restoran yang aku jalankan, aku lupa jika masih ada ayah-ibu serta kedua adik ku yang begitu perduli akan masa depanku.
Pikiran ini kosong, badan ini semakin kurus, disini aku sangat lupa akan penampilan serta kesehatan.

"Mas Iran, Kamu dimana mas? Aku Rindu". Hanya kata-kata itu yang keluar dari lisanku.

"Wulan, Kamu kenapa jadi seperti ini lan? Ibu rindu dengan tawamu serta semangat juangmu sayang" Pelukan seorang ibu seakan terasa percuma.

"Yah, Gimana ini? gimana nasib anak kita yah?" tangisan seorang ibu tinggalah tangisan.

"Sabar bu, ayah pasti akan cari jalan keluar atas semua ujian hidup ini".

****
Ntah angin segar dari mana, aku mendengar kabar jika mas iran akan kembali.
seketika tubuhku berfungsi total, aku bergegas merapihkan diri, aku ingin menyambut kedatangan mas iran dengan wajah cantik dan harum. Aku sudah rindu ingin menyajikan kue dan makanan yang lezat untuknya.
Hati ini selalu yakin jika mas iran pasti akan kembali menemuiku dan akan mengatakan "Wulan Maukan engkau menjadi Istriku".

Kabar hanyalah kabar, bisa nyata bisa hanya bualan belaka, sudah berhari-hari aku duduk di teras rumah dengan bekal yang sudah aku siapkan, Besar harapan dapat melihat kembali sosok pria yang selalu berkeliaran di pikiranku.

"Kamu dimana mas iran?". Bisiku dalam lamunan.


Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah #DNR

Kamis, 23 April 2015

Demi Waktu.

TIM TIGA 
(Allah, Aku dan Kamu)


10 Oktober 2014 - Setiap kali merindu mata ini pasti akan berkaca, tak ada kemilauan intan dan permata pada bait pertama rumah tangga, semua mengalir seiring ridhonya. Kesederhanaan menjadi cermin pada janji suci kala itu.

Keajaiban Allah menjadi peran utama pada kisah hidup ku. Melihatmu langkahkan kaki, semakin jauh dan menghilang dari pandanganku membuat raga ini merapuh. Masih tak percaya jika aku akan mampu melampaui kisah ini seorang diri, namun ketika tubuh ini berbalik melepaskan pandangan di situlah aku meneukan penguat rindu.

"Allah selalu bersamaku, Allah selalu menjadi alasan utamaku dan Allah selalu menjadi penguat tekadku. "

Jarak ribuan kilometer menjadi penguat cinta di antara kita. Tidak semua hal yang kuinginkan harus jadi kenyataan, penantian, pengorbanan, juga suatu kebaikan dan pelajaran dalam hidup. Aku belajar melepaskan atas apa yang aku miliki saat ini,  lalu menangis!.
Aku hanya manusia biasa, lemah dan mungkin terluka. Tapi tak mengapa, waktu akan membawaku terbiasa.

Ini sudah menjadi keputusan Allah, Aku tidak boleh mengeluh!
hidup siapa yang sempurna? bagiku, mendekati sempurna jika bisa menemukan makna. Ketika nama aku dan kamu tertulis rapih pada bab kehidupan di situ aku meminta untuk mengawali dan mengakhiri dengan sebuah ketaatan. Karena percuma bila berdua namun ketaatan jauh dari kehidupan.

Aku dan Kamu pasti akan mati, namun Allah adalah sang Maha Kehidupan. cintailah Allah, cintalah yang dicintai Allah, Agar kita tau makna keindahan hidup. 


Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah

Senin, 13 April 2015

My Dream

"Bawa Aku Terbang"

“Mak, Llilis pengen naik Pesawat.” Bisiku Pada Ibu sore Itu.

“Insyaallah, Ntar kamu pasti bisa naik pesawat Lis”

“Mak, Lilis Pengen banget bisa ajak emak keliling dunia pake pesawat, nanti kita jalan-jalan, terus foto-foto, Belanja oleh-oleh, pokoknya lilis pengen kaya orang-orang gitu lah mak, bisa liburan ke luar negri”. Ceritaku dengan penuh kepolosan.

“Aamiin, Semoga apa yang lilis impikan di kabul semua sama Allah, Itu tempenya di balik lis nanti Gosong”. Nada lembut  itu selalu terlontar penuh kehangatan.

“Oh, Iya lilis sampe lupa kalau kita lagi masak ya Mak”.  Wajah sumringah selalu aku pancarkan setiap kali berbincang dengan ibu terkasih.



Rumah mungil yang bertembokan bilik selalu menghadirkan suasana keluarga yang begitu hangat, Sepulang kerja sebagai sales kue, Aku tak pernah absen untuk membantu emak menyiapkan makan malam. Keluarga kami tidaklah semapan dan selengkap sanak-sodara ku,  namun di rumah ini kami merasakan Surga, Kesederhanaan yang selalu mengajarkan kami untuk bersyukur.

***

“Tempe lagi...Tempe Lagi Bosen” Keluh adik lelaki ku Rahim yang masih berusia lima tahun.

“Rahim Ga boleh ngomong begitu, Kita gak boleh menghina makanan, seharusnya rahim bisa bersyukur karena Allah masih memberi kita Rizky.” Suara lembut itu lagi.

“Tuh, Denger Kata Emak.” Ucapku yang sedikit ketus.

“Hustt...Lilis Jangan Judes gitu Ah, emak Ga suka, adikmu ini masih kecil belum begitu mengerti”. Lagi-lagi kelembutan hati ibu menyejukan hati.

“Mak, Kok Bapak Ga Pulang-pulang sih? Kan Rahim Kangen Mak, Bapak sudah Janji mau ajak rahim jalan-jalan”. Mulutnya yang penuh dengan makanan membuat suaranya tak terdengar jelas.

“Rahim, Kalau kamu lagi makan jangan bicara nanti tersedak”. Sahut ku makin judes.

“Lilis, udah ah.”Sang Suara lembut itu sedikit mengeras.

Ntah kenapa, aku sangat emosi jika harus mencari tahu dimana keberadaan bapak ku sekarang, Ada rasa dimana aku tak ingin lagi melihat sosok pria yang telah menelantarkan keluarganya demi wanita yang datang merusak kehidupan keluarga ku. Sudah tiga tahun kami berjuang keras menyambung hidup tanpa sosok bapak yang seharusnya menjadi pelindung keluarga. Namun ntahlah mungkin ini kisah terbaik yang telah di rancang oleh Allah. Tak tega rasanya jika harus melihat wajah emak yang sedih jika mengingat kembali bayangan pria yang telah menghianatinya.

***

Matahari mulai terbit, Aroma embun kian tercium segar, Suasana pedesaan yang asri selalu membuat pikiran ini nyaman.

“Lis...Kamu Ga Kerja?”

“Lilis libur mak”.

“Libur sih Libur lis, tapi gak pake melamun depan pintu”.

“Iya Mak”. Langsung ku geserkan tubuh mungilku dan duduk pada bale yang mulai rapuh.

“Memangnya apa yang kamu lamunkan lis?”

“Lilis Gak melamun kok mak, lilis Cuma lagi berhayal, Kapan Allah mengangkat drajat keluarga kita? Kapan kita bisa tinggal di tempat yang lebih layak? Lilis pengen banget beli rumah buat emak sama Rahim, Apa lagi kalau hujan turun rumah kita pada bocor semua”. Nada keluh melengkapi lamunanku.

“Sabar Lis, Insyaallah, Semua mimpi kamu akan menjadi Nyata, Yakinlah sama Allah yang maha Kaya”.

“Tapi Kapan Mak? Lilis pengen buktiin sama bapak, kalau dia akan menyesal sudah meninggalkan kita mak”.

“Husstt...Jangan Gitu Ah, Biar gimanapun dia itu bapak mu lis, wajib kamu hormati”.

“Untuk apa lilis menghormati Pria yang sudah tidak peduli sama kita!”.

“Istigfar Lis.”

“Mak, Lilis boleh gak berhenti bekerja jadi sales kue? Mumpung masih muda, Lilis mau ke kalimantan Aja mak, Lilis Mau cari pekerjaan  yang bayarannya lebih besar, Lilis pengen bahagiain emak sama Rahim.”.

“Kalimantan?” Wajah penuh kehawatiran terpancar jelas.

“Iya mak, Kemarin lilis di tawarin sama Pak Hari kepala desa di Kampung Dukuh, Kalau Anaknya Akang  Asep mau berangkat ke kalimantan dan kebetulan lagi ada lowongan kerja buat perempuan.”

“Kamu yakin Lis mau kerja ke kalimantan? Mau kerja apa kamu di sana?”

“Apa Aja mak, yang penting halal.”

“Hemmm, Lis..Lis..” Emak pergi meninggalkan ku begitu saja tanpa seucap kata apapun dari mulutnya.

***

Tak terbayangkan jika aku harus mengahabiskan masa remaja ku di tanah rantau, Tiga tahun sudah aku ikut kerja bersama Kang Asep di kalimantan sebagai buruh di salah satu perusahaan batu bara, bayaran di sini sangatlah cukup untuk biaya hidup Rahim dan Ibu. Berat memang jika harus meninggalkan mereka berdua di kampung halaman namun apalah daya, kehidupan yang memaksaku untuk terus berpacu demi kelangsungan hidup.

Detik terus berlari, Keprihatinan hidup setia menemani. Bayangan wajah seorang ibu selalu menjadi penguat tugasku. Demi mewujudkan mimpi, aku tak sadar jika usia ku sudah menginjak seperempat abad.

“Lis...Gimana Udah siap-siap belom?”

“Udah Kang Asep”.

“Ayo Atuh Lis, kita harus cepat-cepat ke bandara, nanti kalau ketinggalan pesawat bahaya, bisa naik becak kamu ke kampung hehe”. Gayanya yang sangat ramah jelas tergambar.

“Wah...Si Akang bisa Aja nih”.

Selain berjiwa humoris Kang Asep orang yang sangat ramah dan tulus, dia banyak membantu pekerjaanku di sini. Tanpa berpikir panjang Aku segera bergegas merapihkan diri, tak akan ku sia-siakan kesempatan untuk cuti bekerja, tak sabar rasanya tubuh ini untuk dapat memeluk sosok seorang ibu.

***

Bahagia rasanya ketika kaki ini kembali berpijak pada kampung halaman tercinta, melihat suasana pedesaan yang masih sangat asri seakan membuat tubuh ini tertahan dan tak ingin berjauhan dengan keluarga kecil ku. Berjuta ceritapun langsung aku rincikan pada emak yang selalu membuat hati ini merindu. Keajaiban Allah selalu mengiringi langkah kehidupan keluarga ku.

Tubuh ini bergetar begitu hebat, Mata ini tak henti-hentinya meneteskan kebahagiaan, terlebih perempuan di sebelahku membuat tubuh ini kian gemetar.  Ya Allah, Ini kah Janjimu? Aku masih tak percaya akan semua ini, Awan-awan putih menjadi pemandangan utama, genggaman erat nan hangat setia menyelimuti jemariku.

Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik.
Innalhamda Wan Ni’mata, Laka Wal Mulk, Laa Syarikalak.

Aku memenuhi panggilan Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan Mu. Aku memenuhi panggilan Mu tiada sekutu bagi Mu, aku memenuhi panggilan Mu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milik Mu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagi Mu.


“Emak....Inikah Rasanya naik pesawat dengan orang yang sangat lilis sayang” nada tangisku bergema.

“Allah telah mendengarkan semua do’a tulusmu Lis”. Pelukan Erat penuh rasa Rindu dan bangga sangat terasa pada tubuhku.

“Iya Mak...Allah Maha adil ya Mak? Allah sangat sayang pada keluarga kita”.

“Iya Lis, semua ini buah dari kesabaran mu.” Isak tangis emak pun kian tak tertahan”

Tanah Suci menjadi pelabuhan antara Aku dan Emak.

Tak Ada yang Tak Mungkin Bagi Allah, Hidup adalah perjuangan. Apapun hasilnya kelak lakukanlah segala sesuatu penuh dengan kesungguhan dan keyakinan, Do’a orang tua adalah salah satu Kuci Kesuksesanmu.

Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah