Baju Untuk Ibu
Ini bukan saatnya menyerah pada garis takdir yang telah tuhan persiapkan, kepergian bapakku menghadap sang pencipta 19 tahun lalu akibat penyakit liver akut menyisakan perjuangan tersendiri bagi keluarga. Bermalas-malasan dan menyepelekan waktu tidak ada dalam daftar kegiatanku sedari dulu hingga kini.
Melihat usia ibu yang sudah setengah abad membuat semangat ini kian berpacu dengan waktu. Dapat berkuliah di luar kota memang salah satu impianku, dengan harapan menjadi seorang pengusaha muda merupakan akhir titik perjalanan . Menyelesaikan pendidikan, jauh dari keluarga terutama sosok ibu bukan hal yang menyenangkan. Terkadang rasa sakit karena menahan rasa rindu sering menyapa perjalananku di sini. Status boleh anak bungsu dari empat bersodara namun kesan manja tidak termiliki sama sekali pada sifat ku.
Ibu...Ibu...Ibu... Aku lakukan semua ini demi seorang perempuan hebat yang selalu ada di setiap langkah kaki. Menyandang status single parent kerap membuat hatinya menangis, bagaimana tidak! ibuku harus bekerja keras demi anak-anaknya menyelesikan pendidikan. Apapun pekerjaan itu selama halal dan tidak membuat malu keluarga pasti akan kami jalankan.
***
Purwokerto, 1 Oktober 2010. Di kota inilah aku mengawali kisah kidup yang penuh dengan kejutan sebagai mahasiswa jurusan bahasa inggris di salah satu Universitas Negri di purwokerto”
Sang fajar telah menyingsing, kaki harus terus melangkah maju. Sudah tiga bulan terakhir aroma sinar matahari menjadi parfum alami yang tercium sangat khas di tubuhku. Lelehan panasnya aspal jalanan sudah terbiasa meresap pada telapak kakiku, hanya sepatu cats berwarna hitam yang menjadi pengurang rasa panas, Hembusan udara bercampur polusi sesekali mengibas-ngibaskan hijab biru kesyanganku.
“Kerja...kerja..Kerja...” Tuhan harus kemana lagi aku mencari pekerjaan, nafasku terhela begitu letih.
Puluhan surat lamaran telah aku sebar , Seribu cara telah aku coba, Namun sampai detik ini belum ada titik terang perusahaan yang akan memberikan satu kesempatan emas. Status mahasiswa terkadang menjadi pengahalang utama.
Ini bukan saatnya aku mengeluh, bukan saatnya aku menyerah, ini saatnya aku terus langkahkan kaki demi sejuta mimpi yang belum terealisasi satupun. Menjadi seorang pendatang sekaligus tidak memiliki sanak sodara mewajibkan aku untuk harus membuang semua rasa malu dan gengsi.
***
Tuhan memang maha tau, Setelah sekian lama kabar baik itu menghampiri kehidupan baruku di kota purwokerto. Setahun sudah aku menjalani pekerjaan ini, Sepulang kuliah aku melanjutkan aktivitas di Rumah makan untuk membersihkan semua piring dan gelas kotor sisa para pengunjung. Semua itu selalu aku lakukan penuh dengan rasa riang tanpa memperdulikan rasa lelah yang sering datang menyapa. Tidak hanya itu, membagikan brosur-brosur produk terbaru, serta berjualan kue titipan ibu kost sangat sering aku lakukan di kampus. semua itu aku lakukan tanpa rasa malu, Yakin! perjuanganku tidak akan pernah sia-sia.
***
Malam itu terlihat sosok perempuan dengan wajah sangat keibuan berusia 45 tahun sedang duduk santai dengan cemilan satu toples kripik kentang di teras rumah, postur tubuhnya sudah sangat aku hapal dia adalah ibu Lena, ibu kost yang sangat ramah pada siapapun.
"Malam Ibu Lena...” Sapaku penuh sopan santun.
"Rini, sudah pulang? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
“Lumayan melelahkan bu, rumah makan lagi rame banget"
"Makan belum Rin? Ibu masak sayur sop tuh"
"Wahh enak sekali, terimakasih sebelumnya bu, tapi aku tadi sudah makan.
Oh, ia Bu...Aku minta maaf ya, sepertinya bulan ini aku telat bayar sewa uang kost, aku belum terima gajih bu, dan tabunganku baru cukup untuk biaya kuliah". Nadaku penuh dengan memelas.
“Rini...Rini...Kamu kaya ke siapa aja, Iya ibu bisa mengerti ko, Kamu lunasi saja dulu biaya kuliahmu, soal biaya kost ora usah kamu pikiri dulu ”. Tutur kata ramah dengan sedikit logat jawa itu yang selalu membuat aku nyaman.
“Terimakasih ibu Lena, selama ini ibu selalu baik sama aku. Terimakasih ya bu, terimakasiih ” aku gambarkan rasa itu dengan pelukan tulus.
“Iyo Rin Iyo Sama-sama. Rin, Ngomong-ngomong sahabatmu Inggit belum pulang? Ibu seharian belum liat dia?”
“Ohh..Inggit lagi pulang ke solo bu, aku denger ibunya lagi sakit”
“Loh tumben itu anak gak cerita sama ibu”
“Mungkin belum sempet cerita bu, ya kita do’a kan saja yang terbaik untuk ibunya inggit, Aku masuk kamar dulu ya bu”.
“Aamiin, Iya Rin, istirahat sana”.
***
Sarapan dengan segelas susu tanpa di temani selembar roti sudah menjadi kebiasaan ku, Aku benar-benar harus hidup sangat prihatin disini. Namun ntah kenapa hari ini rasanya nafasku seakan terhenti ketika mendengar tempat kerjaku mengalami kebangkrutan. Tuhan, Ujian apa lagi ini! Harus dengan apa aku makan, apa kabar pembayaran uang kost dan perkuliahanku? Mencari pekerjaan baru dengan status mahasiswa tak semudah membalikan telapak tangan, semua itu butuh perjuangan. Tanpa berpikir panjang aku tekan nomor telpon yang sudah aku hapal di luar kepala, ia adalah Anisa kakak perempuanku. Dengan cepat suara berjarak ratusan kilometer terdengar dari speker handphon.
“Assalamualaikum, Mba Nisa?”
“Waalaikumsalam Rin, Apa kabar kamu Rin?”
“Ahamdulillah baik, Mba sekeluarga sehat?”
“Alhamdulillah sehat Rin, Gimana kuliah kamu di purwokerto?Lancar?”.
“Kuliahku Lancar ko mba, Ta-tapiii.....” Suaraku mulai terbata bata
“Tapi kenapa Rin? Cerita sama mba.
“Aku sedih mba, aku bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Mulai minggu depan Rumah Makan tempat biasa aku bekerja tutup mba, warungnya bangkrut. Aku bingung harus cari kerja kemana lagi mba untuk bayar kostan dan kuliah?”.
“Waduuh, Ko bisa Rin?”
“Aku juga ga tau kenapa nasibku harus seperti ini mba”.
“Ya sudah, sabar Rin, Insyaallah nanti mba minta bantuan sama suami Mba ya, siapa tau nanti dia bisa bantu kamu untuk sementara waktu.”
“Terimakasih ya mba, aku minta maaf jadi merepotkan mba”.
“Ga apa-apa Rin, selama mba bisa bantu pasti mba akan bantu”.
“Jangan ceritakan semua ini sama ibu ya mba, aku gak mau ibu hawatir dan jatuh sakit”
“Oke Rin. mba ngerti ko, jaga diri kamu baik-baik ya rin, makan yang bener dan jangan pernah macem-macem disana”.
“Iya mba, Sekali lagi makasih ya mba. Salam buat Mas Andi. Assalamualaikum”
“Iya Rin, Waalaikumsalam”
Setidaknya hatiku mulai sedikit menemukan titik tenang, dari ke tiga kakak ku hanya mba Nisa yang sangat mengerti akan keadaan ini. Maklum dia kakak perempuanku satu-satunya.
***
Tumpukan koran yang penuh akan coretan-coretan pulpen mulai menghiasi kamarku sepekan ini dengan harapan ada satu kabar lowongan pekerjaan. Suasana kosan siang itu cukup sepi, beberapa penghuni kosan sedang asik berlibur akhir pekan.
Terkadang ada rasa ingin pergi berlibur bersama teman-teman sebayaku. Namun jika melihat isi dompet tak mungkin aku melakukan traveling seperti mereka. Cukup sadar diri jika rupiah yang aku dapat sangatlah sulit. Belum lagi biaya hidup di kota orang dan biaya perkuliahan tidaklah murah. Untungnya disini aku memiliki ibu Kost dan satu sahabatku yang benar-benar sangat baik, perhatian mereka seakan menjadi penguat tekadku. Aku sudah menganggap mereka seperti ibu dan kakak ku sendiri. Rasa rindu akan kebersamaan keluarga seakan terobati dengan canda tawa mereka.
Tok..Tok..”Aku boleh masuk Rin”
“Aduh Inggit kamu buat aku kaget saja, sangat boleh donk, Kapan kamu sampai? ibu mu apa kabar?”
“Semalam Rin, Ibu ku sakit jantung, tapi alhamdulillah kondisinya sudah mulai membaik.” Wajah sedih dan watir sangat terlihan jelas dari raut wajah Inggit siang itu.
“Sabar ya nggit, terus sekarang siapa yang jagain ibu kamu?”
“Ada kakak perempuanku yang menjaga ibu, Btw tumben kamu baca koran Rin? Biasanya kamu baca komik doraemon”
“Ahhh..Inggit mulai deh ngeledek, Ia nih Nggit aku lagi cari info lowongan kerja, susahnyaaaa udubilah nggit”.
“Loh bukannya kamu udah betah kerja di rumah makan?”
“Betah sih betah, tapi ya itu, rumah makan tempat kerjaku bangkrut, katanya sih sebulan terakhir ini omsetnya terus menurun. Aku juga bingung nanti bayar uang kost sama kuliah pake apa. Aku ga enak sama ibu Lena kalau harus nunggak terus”. Huffttt ku sela nafas secara perlahan.
“Rin, kalau gak salah tempat laundry dekat kampus kita lagi nerima karyawan baru loh.”
“Oh ya?”
“Iya, coba aja besok kamu kesana Rin, siapa tau masih rejeki.”
“Oke nggit, sekarang juga aku mau bikin surat lamarannya, makasih ya nggit infonya”
“Iya, semangat ya Rin, Aku numpang tidur di kamar mu ya, aku ngantuk banget Hoaaammmm....zzzzzz"
Cuaca yang sangat panas membuat telapak kaki ini seakan meleh. Namun lagi lagi panas bukanlah penghalang untk menggapai semua impianku.
"Kerja...kerja...kerja...Semoga belum terlambat"" Seruku dalam hati, Hanya harapan itu yang terus berkeliaran di otakku.
Jarak Laundry itu memang hanya 100M dari kampus.
Laundry itu kian terlihat, bangunannya seakan mengisyaratkan untuk terus mencoba dan mencoba, penolakan dalam dunia kerja sudah menjadi hal biasa. Kesan jutek dan ketus pada wajah para pelayan sudah menjadi makanan setipa aku menawarkan diri untuk sebuah pekerjaan. Pintu kaca bertuliskan “Ada Lowongan Kerja” membuat aku semakin bergairah.
“Tuhan, semoga aku bisa bekerja di sini” Do'aku dalam hati.
Tanpa pikir panjang, aku langsung memasuki laundry itu. Suasananya sejuk dan sangat harum membuat pikiranku sangat merasa nyaman.
“Permisi mba...”
“Iya masuk mba” Sapaan hangat receptionis muda dengan tubuh mungil menggugurkan kegugupanku.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Oh iya mba, perkenalkan nama saya Rini, saya salah satu mahasiswa di kampus Universitas Negri di kota purwokerto”.
“Duduk dulu mba, silahkan.”
“Terimakasih.” Jawabku penuh senyum.
“Jadi gini mba, tadi saya liat tulisan di papan pintu apa benar di sini sedang membutuhkan seorang karyawan? Kebetulan aku lagi butuh sekali pekerjaan mba, untuk bahan pertimbangan ini surat lamaran saya”.
“Oke saya cek dulu ya mba."
"Silahkan, Maaf nama mba siapa ya?"
"Saya Susi, saya juga karyawan di sini kok, Kebetulan Ibu Citra pemilik londry sedang tidak ada mba Rini, jadi bagaimana kalau besok mba rini ke sini lagi”.
“Oke mba, besok aku pasti akan datang lagi kemari. Sebelumnya terimakasih banyak ya mba, terimakasih”.
"Iya sama-sama".
Rasa Optimis yang sangat tinggi seakan merajai pikiranku hari ini, Raga ini seakan tak sabar menanti hari esok.
***
Lagi...Lagi keajaiban tuhan mewarnai kisah perjalananku, Selain di mendapatkan pekerjaan baru sebagai tukang cuci di Citra laundry, Ibu Citra sang pemiliknya pun sangatlah baik dan penuh akan pengertian.
Hari demi hari terus berganti, lembaran masa depanku mulai berkisah. Tuhan begitu pintar, begitu banyak manusia di dunia ini ia ciptakan dengan miliaran watak dan karakter sehingga membuat otak ini tak pernah berhenti untukmemikirkan keunikan-keunikan setiap episode kehidupan. Tak terasa sudah hampir empat tahun aku menjalani hidup di kota purwokerto yang penuh dengan liku-liku, air mata dan keyakinan.
Aku selalu bermimpi Agar bisa kuliah tanpa menyusahkan orang tua dan keluarga. Kini Perjalananku mulai menemui titik akhir, perjuanganku demi menggapai mimpi tak sia-sia. Terlihat jelas rasa kebanggaan yang luar biasa terlukis indah di raut wajah ibu yang sudah tidak muda. Kerutan kulit pada tulang pipi sekan menjadikan gambaran perjuangan seorang ibu.
Tuhan. . .Inikah rasanya buah dari Do'a, kesabaran dan kerja keras?
"Mimpi..Ini Mimpi...Semua ini Mimpi." Aku sadar ini bukanlah sekedar mimpi, namun inilah mimpi yang menjadi kenyataan. Percuma jika kita memiliki sejuta mimpi namun tak pernah ada aksi, semua itu hanya akan menjadi sebuah angan-angan usang. Dan aku yakin dibalik semua ini ada jutaan do'a dan air mata seorang ibu. Serta ketulusan hati orang-orang disekitarku.
Purwokerto, 10 Desember 2014 sepasang baju ini yang berhasil aku perjuangkan untuk ibu.
Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah. #DNR