Senin, 29 September 2014

La Tahzan

“Hadiah Dari-Nya”
“Setialah, Maka tuhan akan setiakan ia untukmu”.

Tuhan. . . engkau maha tau akan segala Sesutu yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya, aku hanyalah seorang wanita biasa yang  terlahir dari keluarga seorang petani yang  menghabiskan sisa hidupnya di bawah terik sinar matahari, tak peduli akan cuaca yang terkadang menyisakan rasa panas yang begitu dahsyat. Walaupun bapak ku tidak pernah mengenal bangku sekolah, serta ibuku hanya lulusan Sekolah Dasar, namun semangat kami luar biasa dalam menjalani hidup. Kepergian ayahku 18 tahun lalu menjadi pukulan terbesar untuk ibu ku yang harus menerima status janda, serta harus siap menghidupi ke enam anaknya. Ibu ku memang luar biasa hebat ! sekaligus pahlawan bagi ku. Ketaatannya kepada sang pencipta membuat ia kuat menghadapi semua terpaan hidup, karena baginya anak-anaklah yang menjadi suplemen untuknya. Satu persatu kelima sodaraku memutuskan untuk  membina rumah tangga, satu nasehat yang selalu ibu sampaikan untuk putra-putrinya sebelum menikah.

“Untuk Putraku, Jadilah imam yang baik untuk keluargamu dan peliharalah sholatmu, dan teruntuk putriku, jadilah ma’mum yang baik jadilah perempuan yang selalu dirindukan oleh suamimu, layanilah  ia sebaik mungkin dan jagalah sholatmu nak”.

Senang rasanya jika melihat tawa-canda dari ponakanku yang begitu lugu, namun terkadang terselip rasa sedih jika mendengar kata MENIKAH? Karena sampai detik ini tuhan belum mempercayaiku untuk bisa membangun bahtera rumah tangga. Rasa sepi terkadang menyelimuti hati ini, berkali-kali aku menjalin hubungan dengan seorang pria namun selalu terhenti dengan status yang tak pernah pasti. Tinggal di lingkungan pedesaan memberikan kesan tersendiri terkait usiaku yang sudah tidak muda membuat kata JODOH itu selalu menghantui pikranku. Terkadang air mata ini tak tertahankan disaat ibu ku menanyanyakan soal PERNIKAHAN? Seakan-akan semua jawaban yang aku berikan telah terpakai tanpa sisa. Namun secercah cahaya akan” siapa Jodohku?!”  mulai menemui titik terang, mungkin tuhan telah mendengarkan do’a-doa’ku selama ini. Tepat  18 April 2013 Tuhan memberikanku HADIAH yang luaaarrrr biasa indah, tepat hari itu menjdi awal pertemuan kami.  Mengenal dia merupakan anugerah terindah bagiku, aku selalu meminta pada-Nya agar aku bisa dipertemukan dengan sosok pria yang kaya imannya, tampan Akhlaknya, serta sifatnya  yang selalu menjadi contoh baik untuk anak-anaknya kelak. Ntah kenapa walaupun aku belum begitu akrab dengan namanya, namun hati ini yakin jika dia bisa membawaku pada satu keidupan yang akan jauh lebih baik. Hati yang mulai rapuh kembali kokoh, iman yang mulai pudar kembali kuat, impian yang mulai hancur kembali terkonsep setelah tuhan mempertemukan aku dan dia.  Sifatnya yang begitu taqwa akan perintah Allah, kecerdasannya dalam menyikapi persoalan hidup,  ketampanan raga serta kemurahan hati merupakan sifat yang Allah berikan padanya.  Tuhan. . . ingin rasanya raga ini dapat bersanding dengannya

* * *.
Setahun Sudah aku mengenal dia, perbedaan Kasta  bukan halangan bagi kami untuk  berniat membina rumah tangga, karena kita percaya bahwa rencana Allah itu sangatlah  indah sangaaatttt indah !!! Tepat 29 Agustus 2014 Aku dilamar oleh kekasihku, rasa gugup dan kaku terlihat jelas dari wajahku, hanya senyuman malu yang aku ekspresikan malam itu. Untuk berkata  “Iya” saja rasanya sulit. Insyaallah dia adalah pria pertama dan terakhir yang hadir dalam hidupku, hati ini sangatlah tenang ketika keseriusan itu ia buktikan padaku. Tak mudah meyakinkan hati kedua orang tuanya akan ketulusan cinta ini. Memang terkesan aku yang memaksakan diri seakan-akan aku yang terus mengejar dia, Aku tidak peduli akan penilaian orang-orang tentang ku.  Karena yang aku lihat adalah dia berbeda dengan pria-pria sebelumnya yang pernah hadir dalam hidupku. Aku mencintainya karena Allah, oleh karna itu akupun ingin bersamanya karna Allah. Aku hadiahkan sepucuk surat yang menandakan sebuah ketulusan pada kekasihku malam itu.


Cirebon, 29 Agustus 2014
Teruntuk Calon Imamku,



Terimakasih kamu sudah berniat untuk meminangku malam ini, proses yang cukup sulit bagiku untuk bisa bersatu denganmu,  mimpiku untuk bisa menjadi ma’mum engkau memang belum selesai malam ini, karena masih ada beberapa langkah lagi yang harus aku jalani. Namun aku yakin aku dan kamu pasti akan bersama  atas Izin Allah. Sudah cukup bagiku mengenal sikapmu, hati ini sangat ikhlas menerima semua keadaanmu, Aku tau menjalani kehidupan rumah tangga tidak seindah dan semanis yang kita banayangkan, namun tak ada salahnya kan jika aku berharap kita bisa terus bersama sampai ajal menjemput.  Kamu adalah pria yang sangat indah bagiku, pria yang sempurna dimataku. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu “Hamka” !!

Jika aku nanti sudah SAH menjadi istrimu. Jangan pernah lelah mengajarkanku untuk bisa menjadi wanita yang solehah, menjadi wanita yang kuat, wanita yang cerdas untuk anak-anaknya, wanita yang sempurna bagi keluarga kecilnya, dan Jika tuhan mengizinkan kita bersatu aku Mohon Jangan pernah lelah engkau  membimbing kami untuk terus bisa menjadi keluarga yang selalu mendapat rahmat Allah. . . Aamiin.

Dan satu lagi sayank, jangan ngomel ya kalau nanti masakanku gosong atau terlalu asin. JANJI???Awaaassss ya kalau marah nanti aku kabur ke warteg  loh hehe. Yang pasti aku akan terus belajar dan berusaha untuk bisa menjadi istri yang baik untukmu. Pokonya kamu gak akan nyesel deh udah milih aku :D Narsis.com

Salam Sayang, 
Rahma :D

* * *
Menjalani kehidupan  sepasangan pengantin baru yang harus terpisah oleh jarak dan waktu selama tiga tahun bukanlah perkara yang mudah. Diskusi yang selalu kita lakukan sebelum memutuskan sebuah perkara membuat kita bisa memahami dan mengurangi  rasa ego pada diri kita Masing-masing. Dapat bekerja di Negri bunga sakura “Jepang” adalah mimpi terbesarnya, melihat kerja keras yang ia lakukan untuk bisa bekerja disana membuat diri ini harus ikhlas menjalani kehidupan rumah tangga tanpa seorang suami tercita.
Angan-anagnku untuk bisa melayaninya setiap hari harus tertahan demi satu mimpi besarnya.  Sudah jelas tergambar akan  banyak sekali cobaan dan ujian yang harus aku jalani tanpa ada istilah tawar menawar, namun itulah Hidup. HARUS MEMILIH !!! dan itulah kehidupan selalu memiliki cerita yang BERBEDA. Namun jika sutradara Alam (Allah) Sudah memulai skenarionya kita harus siap menjalankan peran itu sebaik mungkin.  La Tahzan. . Bahagia Itu Pasti !!

Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah. #DNR