Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Assalamualaikum. ^_^
Apa kabar kawan? Tak terasa ternyata perjuangan kita menahan hawa & nafsu selama kurang lebih satu bulan lamanya akan segera berakhir. Semoga kita bisa bertemu kembali di bulan yang suci dan penuh berkah ini, Rasanya hati ini tidak pernah ingin berpisah dengan bulan yang penuh ampunan. Serta bisa kembali pada hari yang Fitri. Hayoo siapa yang sudah beli baju lebaran? Jangan lupa untuk terus berbagi kebahagiaan ya kawan. Dalam menjalani hidup , manusia seringkali dihadapkan pada dilema dan problematika. Mau tidak mau manusia harus mampu menganalisa dan memahami serta mencari jalan keluar dari kesulitan dan problem yang sering ditemui. Sebelum mengambil keputusan yang tepat hendaknya kita mampu mengidentifikasi persoalan dengan seksama. Dan pikirkan kembali jika engkau ingin mengambil satu keputusan demi kebahagiaanmu sendiri. Kawan aku punya satu kisah untukmu.
“Akhir Penantian”
Hampir satu minggu Mak Ipah (bukan nama sebenarnya) menghabiskan waktu senjanya di kursih tua yang sudah reot itu. Namun aktifitas itu bukan kali ini saja ia lakukan. Hampir setiap tahun , menjelang hari raya Idul Fitri, ia pasti seringkali terlihat duduk di teras rumahnya sambil menatap sudut jalan, seolah sedang menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang. Mungkin sebenarnya tidak lain yang di tunggu Mak Ipah melainkan keempat anaknya yang sekarang sudah tidak jelas lagi rimbanya. Mereka hilang bagaikan ditelan bumi. Bahkan sebenarnya Mak Ipah sudah hampir kehilangan harapan. Berbagai berita yang datang tentang mereka tidak pernah lagi menjadi perhatiannya. Karena pada akhirnya toh tak ada satupun anak-anaknya yang berniat kembali, meskipun hanya sekedar menjenguk atau mencium tangannya.
Di usianya yang sudah memasuki senja (hampir 85 tahun), tidak ada kebahagiaan yang lebih dirindukannya selain berkumpul bersama anak-anaknya dan mendengar tawa & canda cucu-cucunya . Wajar saja jika naluri keibuannya tumbuh serta berharap agar ada sosok yang perlahan menuju rumah tuanya dan mencium tanganya yang sudah mulai rapuh dengan penuh kelembutan serta kasih sayang.
Mak Ipah selalu berharap, sebelum ajal tiba menjemputnya, ia bisa melewati hari raya Idul Fitri bersama anak dan cucunya. Makan ketupat bersama, pergi sholat id ke mesjid bersama dan bersama-sama pula berziarah ke makam suaminya yang telah lebih dulu dipanggil ilahi.Tetapi iya sadar semua itu hanyalah mimpi seorang perempuan tua yang semakin terbatas di penghujung usianya. Keempat anaknya lebih memilih untuk pergi bersama istri-istrinya ke luar pulau demi keegoisan hatinya, tanpa memikirkan nasib seorang ibu yang telah merawatnya sampai ia tumbuh dewasa.
Mak Ipah yang merupakan guru ngaji dikenal oleh para tetangganya merupakan perempuan pekerja keras, dan sangat taat pada perintah Allah. Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun, walaupun tatapan matanya menunjukan rasa kesepian yang sangat mendalam. Iya tau jika keempat anaknya itu sudah tidak pernah peduli lagi padanya. Semua itu ia rasakan tatkala suaminya jatuh sakit, tak ada satupun anaknya yang berniat ingin pulang serta melihat keadaan bapaknya. Sejak itulah Mak Ipah mulai tak peduli dengan kabar berita yang dibawa oleh warga setempat tentang anaknya. Kepergian suaminya ke alam baka tentu saja menorehkan kesedihan yang dalam. Jika hari-hari kemarin Ia masih bisa berbagi beban pada suaminya, kini ia harus menghadapi semua persoalan hidup sebatang kara.
“Mungkin benar kata pepatah, satu orang ibu mampu menjaga dan membesarkan sepuluh orang anaknya, tetapi sepuluh orang anak belum tentu mampu menjaga dan merawat satu orang ibunya”. Demikian pula yang terjadi pada Mak Ipah dan suaminya yang telah berusaha merawat, mendidik dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil.
Anak-anak Mak Ipah seolah sengaja pergi menjauh dari Ridho kedua orang tuanya. Padahal, bukan harta yang Mak Ipah harapkan. Melainkan kehadiran dan kasih sayang mereka saja sudah dapat menjadi penyejuk hati dan pengobat kerinduan dalam hidupnya.
*****
Ramadhan kali ini seperti ada yang beda pada dirinya. Tampaknya perempuan sepuh itu sudah memiliki firasat akan terjadi pada dirinya. Iya terus memandangi foto lusuh anak-anaknya yang terpajang di dinding tembok rumahnya yang sudah mulai runtuh.
Esoknya, ketika fajar Idul Fitri menyingsing, semua penduduk , baik orang tua, pemuda maupun anak-anak pergi ke mesjid untuk meninggikan syiar Islam lewat sholat Idul Fitri berjamaah. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru kampung.
Bersilaturahmi antar rumahpun menjadi rutinitas para tetangga di kampung tersebut. Sejak pagi tadi tak ada satupun warga yang melihat sosok Mak Ipah. Beberapa warga muai mengetuk pintu rumah Mak Ipah. “Assalamualaikum. . . Mak Ipah”, seru para tetangga, namun tak ada jawaban sedikitpun dari sudut rumah Mak Ipah. Karena rasa hawatir yang kian menjadi, para tetanggapun mulai mendobrak pintu rumah Mak Ipah. “Astagfirullah al-Adzim. . . Ya Allah, Mak Ipah ! “Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sujud sembah mak Ipah di atas sejadah yang sudah lusuh kian menjadi penghujung hidupnya. Ternyata Allah lebih sayang padanya di bandingkan putranya yang selama ini iya besarkan. Sangatlah beruntung Mak Ipah meninggal dalamkeadaan benar-benar siap menghadap tuhannya, dan semoga Mak Ipah benar-benar menerima khusnul khatimah. Aamiin
Renungkanlah Kawan, masihkan kalian tidak peduli akan ketulusan dan kasih sayang kedua orang tuamu? Jangan biarkan penyesalan mengahmpiri hidupmu.
Alhamdulilah ^_^
Semoga bermanfaat ya kawan.
Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah. #DNR
Ditulis Oleh : Desi Nurrohmah. #DNR







